MEMPERBAIKI MATA MINUS DENGAN NANOPARTIKEL, BISAKAH?

Kurang lebih seminggu yang lalu ada sebuah berita di Kompas.com yang memberitahukan bahwa peneliti sedang berusaha mengembangkan obat tetes yang dapat memperbaiki rabun jauh dan rabun dekat dengan bantuan nanopartikel. Peneliti tersebut adalah David Smadja, dokter mata dari Shaare Zedek Medical Center di Israel. Tentu saja Smadja tidak bekerja sendiri dalam mengembangkan obat tetes ber-nanopartikel ini, ia bekerja sama dengan para peneliti lainnya yang berasal dari Bar-Ilan University, Israel.

Sebelum masuk kedalam obat tetes mata ber-nanopartikel tersebut, apa sebenarnya rabun jauh dan rabun dekat itu? Rabun jauh atau myopia (bahasa umumnya mata minus), diambil dari alodokter.com adalah suatu kondisi dimana kornea mata yang bentuknya normal berubah menjadi lebih panjang/pipih yang menjadikan titik cahaya yang jatuh tidak terfokus pada retina, melainkan didepan retina. Karena titik cahaya ini jatuh didepan retina, mengakibatkan pandangan penderitanya kabur/tidak jelas saat melihat benda yang jauh.

Tidak lengkap rasanya bila tidak membahas tentang rabun dekat juga. Rabun dekat atau hiperopia atau hypermetropia (atau bahasa umumnya mata plus)─kembali diambil dari alodokter.com─adalah kondisi ketika titik fokus cahaya yang melewati kornea jatuh dibelakang retina. Jika rabun jauh titik cahaya jatuh didepan, pada rabun dekat adalah kebalikannya, yang berarti titik cahaya jatuh dibelakang retina. Akibatnya, orang yang menderita rabun dekat, tidak bisa melihat benda yang berada didekatnya. Sementara benda yang jauh terlihat jelas. Umumnya rabun dekat ini terjadi pada orang-orang diusia 40 tahun keatas, tetapi tidak menutup kemungkinan anak-anak dan dewasa muda juga terkena kondisi ini. Berbeda dengan rabun jauh yang lebih umum ditemui hampir disemua kalangan anak-anak dan dewasa muda.

Kembali lagi pada topik utama, mengobati mana minus dengan nanopartikel yang berada didalam obat tetes. Terdengar cukup unik dan keren, juga convenient, bukan? Tapi sebenarnya apa itu nanopartikel dan bagaimana nanopartikel bisa mengobati mata minus. Nanopartikel, dikutip dari Rachmawati (2007), adalah partikel yang berukuran antara 1-1000 nanometer. Dikatakan dalam bidang farmasi, nanopartikel mempunyai 2 pengertian (dan bentuk), pertama yaitu, senyawa obat yang melalui suatu cara tertentu dibuat menjadi nanometer dan disebut sebagai nanokristal. Yang kedua adalah senyawa obat yang dienkapsulasi dalam suatu sistem pembawa tertentu berukuran nanometer yang disebut dengan nanocarrier (Darmawan, 2007, hlm. 3).

Lalu, bagaimana cara kerja nanopartikel dalam obat tetes yang sedang dikembangkan oleh Smadja dan peneliti lainnya? Dalam berita di Kompas.com tersebut, ada sebuah paragraf yang cukup menjelaskan bagaimana nantinya nanopartikel ini bekerja. Paragraf tersebut berbunyi bahwa nanopartikel melibatkan pembentukan material atau struktur baru dalam ukuran yang kecil. Yang perlu digarisbahawi disini adalah bahwa besar kemungkinan nanopartikel tersebut nanti akan bekerja dengan membentuk material atau struktur baru didalam kornea mata yang mengalami rabun dekat atau jauh.

Mengapa kornea? Karena kornealah yang bertugas untuk membuat titik fokus cahaya jatuh tepat pada retina. Bila kornea mengalami pemipihan/lebih panjang, maka titik fokus cahaya akan terkena dampaknya dengan jatuh satu titik didepan retina dan juga sebaliknya. Titik fokus cahaya harus jatuh tepat diretina, dan itulah penglihatan normal. Kornea bisa berubah menjadi lebih panjang/pipih dan menebal karena beberapa faktor, antara lain; karena keturunan (gen), lingkungan, usia, dll.

Meskipun kornea menjadi salah satu penyebab terjadinya rabun jauh atau dekat, tetapi dalam rabun jauh─dikutip dari alodokter.com─kerusakan refraktif bisa juga menjadi penyebab seseorang menderita rabun jauh. Kerusakan refraktif pada mata menjadi penyebab paling sering untuk kondisi mata rabun jauh ini. Pada orang yang mempunyai gangguan refraktif, permukaan kornea tidak mulus layaknya mata normal, sehingga cahaya yang masuk tidak bisa dibiaskan secara normal dan berakitbat titik fokus cahaya jatuh didepan retina.

Nanopartikel yang akan bekerja dengan membentuk struktur baru (didalam kornea kemungkinan besar) bisa saja berbentuk nanokristal. Mengapa nanokristal dan bukan nanocarrier? Menurut Rawat et al. (2006), nanokristal adalah penggabungan dari ratusan atau ribuan molekul yang membentuk kristal, terdiri dari senyawa obat murni dengan penyaluran tipis dengan menggunakan surfaktan. Tidak seperti nanocarrier, nanokristal hanya memerlukan sedikit surfaktan sehingga mengurangi keracunan karena bahan tambahan untuk pembawa. Selain itu, menurut Rachmawati (2007), nanokristal juga memungkinkan pengembangan formulasi sediaan melalui rute pemberian yang mana ukuran partikel adalah faktor yang kritis seperti obat tetes mata, sediaan topikal, cairan infus dan obat suntik (Darmawan, 2007, hlm.3).

Jadi, secara tidak official, paling tidak kita sudah mengetahui bahwa nanopartikel dalam obat tetes mata yang sedang dikembangkan tersebut berbentuk nanokristal. Meskipun begitu, penelitian obat tetes mata ini baru dicoba pada hewan dan baru terbukti bisa menyembuhkan penglihatan mata yang ringan, bukan yang berat.



Sumber:
https://sains.kompas.com/read/2018/03/07/173500123/peneliti-kembangkan-obat-tetes-untuk-perbaiki-mata-minus-tanpa-operasi
http://www.newsweek.com/correcting-vision-without-surgery-or-glasses-could-be-possible-new-eye-drops-832675
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-dianperdan-27551&newtheme=gray
http://www.alodokter.com/rabun-jauh
http://www.alodokter.com/rabun-dekat

Komentar

Postingan Populer