PARASIT PADA IKAN KONSUMSI, BERBAHAYAKAH?
Indonesia merupakan sebuah negara yang terkenal dengan hasil lautnya yang beragam. Salah satunya adalah ikan – yang berasal dari air tawar, air payau, dan air asin (Jurnal Medika Veterinaria Vol. 9 No. 2/ Agustus 2015). Subsektor di bidang perikanan memegang peranan yang penting dalam menyediakan protein hewani bagi rakyat Indonesia. Peranan ini dibuktikan dengan adanya produksi ikan yang mencapai 2 juta ton per tahun yang berasal dari 74% hasil laut dan 26% berasal dari air tawar (Mariyono dan Sundana, 2002).
Seperti makhluk hidup pada umumnya, ikan dapat terserang atau terinfeksi penyakit yang berasal dari cacing, virus, bakteri, ataupun parasit. Salah satu penyebab utama munculnya penyakit pada ikan adalah parasit. Munculnya parasit pada ikan ini menimbulkan dampak negatif yang dapat merugikan jaringan makanan (ekosistem) karena menyebabkan penurunan kualitas/mutu ikan hingga ganggungan pada kesehatan manusia yang mengonsumsinya. Munculnya parasit, tentunya dapat menyebabkan berbagai efek dari yang paling ringan hingga mematikan pada inangnya. Konsekuensinya adalah perindustrian perikanan akan mengalami kerugian yang besar beserta para konsumennya (Palm et al, 2008).
Dalam KBBI, parasit berarti benalu yang artinya sebuah organisme yang hidup dengan cara menyerap sumber hara atau makanan dari organisme-organisme lain yang menjadi inangnya. Apakah cacing sama dengan parasit? Bisa iya bisa tidak. Parasit dapat berwujud dalam bentuk cacing maupun bentuk lainnya – tetapi tidak semua cacing adalah parasit. Selain itu, apapun jenisnya, parasit harus dibasmi karena sifatnya yang parasitisme (mengambil keuntungan dari inangnya).
Parasit yang sering ditemukan pada ikan-ikan di perairan tawar/asin yaitu jenis parasit Aphanomyces sp. yang menyebabkan gejala bercak-bercak putih dan kecoklatan pada daging bawah kutikula ikan. Selain Aphanomyces sp., parasit yang juga sering ditemukan pada ikan yaitu jenis Argulus sp. yang biasanya berbentuk bulat pipih dengan diameter sekitar 5mm. Ciri yang sangat menonjol dari parasit ini (jika dilihat di bawah mikroskop) adalah memiliki bagian ventral yang dinamakan Sucker. Sucker, bila langsung diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia berarti “penghisap”. Sucker adalah “organ perekat” yang berfungsi untuk menghisap sari makanan dari tubuh inang (ikan). Ciri-ciri ikan yang terinfeksi parasit Argulus sp. Ini yaitu munculnya titik-titik merah pada kulit, sisik ikan mulai lepas, insang berwarna kehitaman, dan keluarnya lendir yang berlebihan pada sirip atau tubuh ikan. Untuk mengetahui lebih lanjut soal parasit ikan, tonton video ini dengan narasumber Isti Koesharyani, peneliti di Pusat Riset Perikanan Budidaya.
Dalam Laporan Praktikum Teknik Pengelolaan Kesehatan Organisme Akuatik oleh Lathifah, jika Anda penggemar ikan (ikan tawar atau ikan laut), Anda perlu cermat dan teliti jika diminta untuk memilih ikan yang akan dikonsumsi yaitu dengan melihat kondisi fisik ikan yang dijual. Hindari ikan yang memiliki ciri sebagai berikut: terlalu berlendir di bagian tubuh ikan (sirip, tubuh, mata, dan mucus/anus), luka di bagian mulut dan sirip, insang yang kehitam-hitaman, bercak pada tubuh ikan (putih, merah, dan kecoklatan), mata ikan yang memiliki katarak, dan daging ikan yang berwarna pucat dan a lot (lembek) dengan bau yang sudah tidak segar (khusus untuk ikan yang sudah dibersihkan).
Menurut Nova Lianda, dkk di dalam jurnalnya yang berjudul “Identifikasi Parasit Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Irigasi Barabung Kecamatan Darussalam Aceh Besar”, iklim dan cuaca sangat mempengaruhi tingkat penyebaran parasit karena iklim menentukan kualitas (edemisitas) dari munculnya suatu penyakit. Sedangkan cuaca menentukan prevalensi penularan suatu penyakit yang parasitik hingga akhirnya menimbulkan suatu epidemisitas. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi ketahanan seekor ikan terhadap parasit yang menginfeksi “inang”nya yaitu jenis kelamin, umur, dan sistem ketahanan tubuh.
Ada beberapa faktor yang juga ikut berperan dalam munculnya serangan infeksi pada ikan air tawar/asin yang dibudidayakan yaitu kepadatan jumlah ikan dalam atu kolam, monokultur/stress, dan sistem kandang yang dipakai (Barber et al, 1998). Hal itu dikarenakan parasit penyebab penyakit pada ikan terjadi karena adanya kontak langsung antara ikan yang sakit dan ikan yang sehat selama pembudidayaan atau dapat juga karena adanya kontaminasi parasit melalui peralatan yang dipakai saat memindahkan ikan.
Gejala yang diamati pada ikan adalah kelainan bentuk tubuh dan tulang, insang, sirip, sisik, perut, mata, organ dalam, darah, adanya organisme lain yang melekat pada tubuh ikan (ektoparasit), dan perubahan tingkah laku ikan saat di dalam kolam. Umumnya parasit yang menginfeksi ikan adalah golongan cacing (Trematoda, Nematoda, dan Cestoda), protozoa, dan Crustacea yang biasanya ditemukan dan menyerang bagian luar tubuh (ektoparasit) dan organ/dalam tubuh ikan (endoparasit).
Dikutip dati DetikHealth.com, dr. Banchop Sripa dari Tropical Tropical Disease Research Laboratory, Khon Kaen University, Thailand, mengatakan bahwa, orang-orang yang makan daging ikan mentah, beresiko terkena parasit cacing hati yang dapat berujung pada kanker hati. dr. Sripa menambahkan, agar terhindar dari parasiti cacing hati yang terdapat dalam ikan mentah, ada baiknya ikan dimasak terlebih dahulu.
Dari penjelasan diatas, sekarang kita tahu bahwa memakan ikan yang terkena parasit dan tidak membersihkannya dengan baik dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, baik itu jangka pendek ataupun jangka panjang. Meskipun begitu, menurut Isti Koesharyati, peneliti di Pusat Riset Perikanan Budidaya, masyarakat tidak perlu takut dengan parasit pada ikan ini. Asalkan ikan sudah dibersihkan dengan baik dan dimasak dengan matang sempurna, parasit yang ada didalam ikan seharusnya ikut mati. Karena parasit tidak bisa bertahan tanpa inangnya. Sehingga bila inangnya mati, ada kemungkinan besar parasit juga ikut mati.
Sumber:
Lianda, et al. Identification of Parasites on Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Fish Collected from Barabung Irigation Darussalam Aceh Besar. Banda Aceh.
Jasmindar, Y. Prevalensi Parasit dan Penyakit Ikan Air Tawar yang Dibudidayakan di Kota/Kabupaten Kupang.


Komentar
Posting Komentar